Tentang Saya

Tentang Saya dan Traveling

Saya adalah orang pertama di keluarga saya yang memiliki paspor. Saya juga adalah orang pertama di keluarga saya yang naik pesawat ke luar negeri. Ini terjadi pada tahun 2016, di usia saya yang ke-19.

Destinasi luar negeri pertama saya adalah Jepang. Bukan Tokyo. Bukan juga Osaka. Tapi Hiroshima. Di sinilah, saya rasa saya mulai tersengat demam traveling.

Saya adalah traveller yang menyukai banyak hal: pergi ke alam melihat pegunungan, keliling kota melakukan urban adventure, pergi ke pasar dan menyatu dengan masyarakat lokal, wisata kuliner, menonton tarian tradisional, belanja, dan you name it. Saya suka semuanya. Sulit bagi saya untuk memilih antara gunung dan pantai. Kamu orang gunung atau pantai? Saya rasa saya keduanya. Tapi kalau boleh jujur, saya paling suka dengan sungai, terutama pergi ke kota-kota yang berdiri dekat sungai. Bagi saya sangat romantis.

Saat ini, saya bukanlah full-time traveler. Saya adalah seorang part-time traveler. Alias traveler yang pergi ketika diizinkan cuti oleh kantor. Alias juga seorang full-time worker di sebuah perusahaan swasta di Tangerang, Indonesia. Dengan sangat jujur, saya berharap untuk menjadi seorang full-time traveler suatu saat nanti.

Kadang saya suka lelah dengan pekerjaan saya. Rasanya ingin traveling saja mengelilingi dunia. Tapi pekerjaan saya jugalah yang bisa membuat saya menghasilkan uang untuk membeli tiket pesawat, memesan penginapan, atau singkatnya, untuk traveling. Saya belum bisa menghasilkan uang dari traveling, lalu saya gunakan kembali untuk traveling ke destinasi lainnya.

Saya senang melakukan traveling sendirian (solo traveling). Bukan berarti saya tidak mau ada orang yang menemani perjalanan saya. Melakukan perjalanan bersama 1 – 2 orang teman rasanya mengasyikkan. Tapi untuk saat ini, saya belum ketemu saja yang memiliki satu visi, satu prinsip, dan satu selera dengan saya.

Saat ini, saya baru mengujungi 7 dari 196 negara yang ada di dunia. Saya belum cukup kaya sehingga harus bekerja dan menabung untuk bisa traveling ke berbagai negara lainnya.

Mengapa Cerita Bawa Ransel?

Sayapun juga bingung jika ditanya kenapa namanya harus itu. Tapi mungkin karena saya hanya membawa 1 buah ransel ke 3 negara terakhir yang saya kunjungi. Rencananya, jika memungkinkan, saya akan tetap membawa 1 buah ransel ke berbagai destinasi lainnya. Tapi saya tidak janji. Saya tidak tahu apakah saya bisa membawa 1 ransel saja ketika suatu saat saya harus pergi ke Alaska saat musim dingin.

Jadi nanti kalau ada bawa koper, nama blog ini sudah tidak relevan dong? Jelas masih. “Bawa ransel” merupakan sebuah metafora tentang “pergi” atau “berkelana ke suatu tempat”, tidak peduli bahwa pada kenyataannya saya membawa koper, atau tas jinjing, atau sebuah slingbag. Jadi, “Cerita Bawa Ransel” berarti cerita-cerita yang saya dapatkan ketika saya sedang berkelana ke suatu tempat.

Saya menulis “Cerita Bawa Ransel” untuk mencatat seluruh perjalanan saya. Suatu saat, mungkin 10 atau 20 tahun lagi, saya ingin bisa melihat bagaimana perjalanan “membawa ransel” saya dimulai, lika-likunya, dan apa saja perubahan yang telah terjadi. Saya ingin bisa berkata: Wah, saya mulai blog ini dari 7 negara. Tidak menyangka sekarang sudah lebih dari 40 negara. Dengan kata lain, blog ini akan menjadi semacam catatan perjalanan (dan kehidupan) saya.

Kedua, saya juga ingin pengalaman yang saya dapatkan dari perjalanan saya berlalu begitu saja. Saya ingin ada kisah-kisah yang saya tuliskan untuk bisa selalu saya kenang dan siapa tahu, bisa diwariskan ke anak cucu nanti.

Ketiga, saya ingin berbagai pengalaman perjalanan saya kepada banyak orang. Di luar sana ada banyak blog tentang traveling. Tapi mungkin (kebanyakan) ditulis oleh para traveler dari negara Barat. Kurs yang (biasanya) lebih tinggi, paspor yang “kuat”, aturan kerja yang lebih fleksibel, ataupun perbedaan norma yang berlaku (misalnya, ekspektasi keluarga soal pekerjaan), menjadi faktor yang seringkali membuat banyak orang pesimis: Mana bisa di Indonesia kayak gitu.

Tapi saya ingin orang-orang Indonesia bisa membaca tulisan saya. Oh, ternyata ada orang Indonesia, bukan seorang crazy rich Asian, tapi seorang karyawan korporat 8-5 (seringnya 8-7); yang sedang menempuh mimpinya pergi traveling. Saya belum berhasil mengelilingi dunia. Saya baru mulai dari 7 negara. Masih ada 189 negara yang belum saya kunjungi. Ibaratnya, saya dan blog saya masih work in progress. Nah, kita pun bahkan bisa menulis kisah perjalanan kita masing-masing secara bersama-sama. Saya mulai dari 7, mungkin kamu dari 1, 8, atau belum sama sekali. Dari titik manapun kamu memulai, tidak masalah!

Dan terakhir, saya ingin orang-orang tahu bahwa dunia ini, meski dalam konteks tertentu memang sempit, adalah tempat yang luaaasss. Jangankan dunia, Indonesia juga tempat yang luaaasss. Negara ASEAN saja ada 10. Di dekatnya masih ada Papua Nugini dan Timor Leste. Lalu, tahukah kamu bahwa ada 54 negara di benua Afrika? Belum Eropa, Amerika Selatan, Asia Tengah, dan lain sebagainya. Ah, intinya ada banyak sekali. Ada berbagai jenis masyarakat, kebudayaan, tempat, yang mungkin belum kita pernah lihat sebelumnya dan sangat berbeda jauh dari tempat kita berada saat ini. Saya selalu senang mendapatkan exposure terhadap tempat-tempat baru dan orang-orang baru. Percayalah, semakin banyak kita melihat dunia dan semakin luas pandangan mata kita, kita tidak akan pernah menjadi orang yang sama lagi.

Tentang Saya Pribadi

Biarlah bagian tentang saya secara pribadi saya taruh di paling akhir. Nama saya Bobby, atau kalau ingin lebih keren, panggil saya Bob. Saya lahir pada tahun 1997 di Jakarta, Indonesia. Saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Saya adalah lulusan Ilmu Hubungan Internasional dari sebuah kampus swasta di Bandung, Jawa Barat.

Saya berbicara dalam 2 bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Saat ini, saya sedang berniat untuk menguasai Bahasa Mandarin.

Menulis adalah hobi saya, namun sempat berhenti selama beberapa tahun setelah sibuk dengan berbagai urusan. Saat ini, saya sedang mulai menulis kembali. Saya juga senang traveling (oh ya?). Perpaduan keduanya-lah yang membuat “Cerita Bawa Ransel” ini lahir.

Di waktu senggang, saya juga senang berlari, menonton film, belajar bahasa baru, mendengarkan musik, dan membaca buku.

Film favorit saya: Magnolia (disutradarai oleh Paul Thomas Anderson), Tokyo Story (oleh Yasujirō Ozu), In the Mood for Love (oleh Wong Kar-wai), Moonlight (oleh Barry Jenkins), Silence (oleh Martin Scorsese), The Scent of Green Papaya (oleh Tran Anh Hung), Mystic River (oleh Clint Eastwood), dan Tropical Malady (oleh Apichatpong Weerasethakul).

Saat ini, saya sedang menyukai city pop semacam lagu-lagu-nya PREP dan Phum Viphurit. Saya juga suka mendengarkan Tulus, Imagine Dragons, John Mayer, dan Honne.